MALA TAU SITAMMU AKA' PEKUYA'NA PUANG

Sabtu, 27 Agustus 2011

UPACARA ADAT DAN KEBIASAAN-KEBIASAAN ORANG TUA ZAMAN DAHULU DI TABULAHAN


UPACARA ADAT
DAN
KEBIASAAN-KEBIASAAN ORANG TUA ZAMAN DAHULU DI TABULAHAN
(Oleh : Apolos Ahpa)

PENDAHULUAN
Pada zaman dahulu kala, sebelum Agama Kristen masuk di daerah Tabulahan, memang sudah ada kebiasaan-kebiasaan tersendiri atau upacara-upacara adat yang sering dilakukan oleh orang-orang tua di Tabulahan, baik itu yang bertujuan penyembahan kepada Dewa-Dewa, maupun kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan umat manusia. Kepercayaan yang dianut pada masa itu biasa disebut “Alu’ To Dolo” atau “Alu’ Ma’purondo”.
Namun sejak kekristenan masuk di daerah ini, maka kebiasaan-kebiasaan itu semakin terkikis bahkan ada yang sudah tidak dilakukan sama sekali, namun ada beberapa hal yang tetap dilakukan dan disesuaikan dengan kekristenan, karena makna yang terkandung dalam upacara-upacara adat itu tetap diyakini dalam kehidupan Orang Tabulahan sampai saat ini.
Dalam tulisan ini akan saya ceritakan tentang apa saja yang biasa dilakukan orang tua zaman dahulu sebelum mengenal kekristenan. Ceritan-cerita ini bersumber dari wawancara saya dengan beberapa orang tua yang masih merupakan pelaku ataupun menyaksikan upacara-upacara ini, antara lain: Emborang (Indo Lanta’), Ruben Ahpa (Ta Lanta’), Tandi Palli (Pua’ Ambe Mento) dan ta Pahta(Pua’ Ambe Hande) dan masih banyak orang tua lagi yang saya lupa sebutkan namanya, diantara mereka ada yang sudah meninggal tapi ada juga yang masih hidup sampai sekarang.
Tulisan ini juga dilengkapi dengan cerita-cerita yang dikumpulkan oleh Penerjemah Alkitab dari New Zeland (Robin & Delwyn Mckenzie), dan foto-foto yang didokumendasikan. cara mereka mengumpulkan data-data ialah menyuruh semua orang di daerah Tabulahan untuk menuliskan apa saja yang mereka ketahui, kemudian tulisan-tulisan itu dinilai dan diberikan imbalan.
UPACARA-UPACARA/KEBIASAAN-KEBIASAAN
Ada berbagai macam upacara adat yang sering dilakukan, baik itu yang dilakukan setiap tahun sekali, maupun yang dilakukan tiga tahun sekali, atau yang dilakukan secara tiba-tiba. Adapun upacara-upacara adat atau kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan oleh orang-orang tua dulu antara lain:
a.        Mopahiama (pa'taungang)
b.      Mangkoyo (mangkaringe'i)
c.       Ma'pahhi'
-          Ma'tobaliang
-          Menani (Naniang Dasang, Naniang Uma)
d.      Pangngae/kumoha
e.       Mampaleho'
f.       Meusi' / sumomba
g.      Mampahahi', anna mansohengngi pinängngäng.
h.      Ma'tomate, mokaleang baha', mobätäng punti
i.        Mensomba’, mebaba'
j.        Medasang, meloko,
k.      Mokalane/mendohe'
l.        Sumayo, pakeang, pangkahka',

a.      Mopahiama/Ma’taung
Mopahiama berasal dari dua kata “Mo/ma’” = ber- (bercocok tanam),dan “Pahiama/taung”= tahun), Jadi “Mopahiama/Ma’taung” artinya: “ber-(cocok tanam) tahunan”. Kegiatan ini dilakukan oleh semua orang secara serempak, tidak boleh ada yang ketinggalan. Semua orang secara serempak mengolah sawah, atau membuka kebun untuk ditanami padi, hasil panen inilah yang akan dipakai untuk makanan sehari-hari dan juga digunakan dalam upacara-upacara adat yang lain. Inilah yang dimaksud dengan “Mopahiama/ma’taung.”

(Beginilah cara pengolahan sawah untuk ditanami padi di daerah Tabulahan)
b.      Mangkoyo (mangkaringe'i)
Mangkoyo, berasal dari kata depan “Mang “ artinya “me-” dan “koyo” artinya “iris”. Jadi “Mangkoyo” berarti “Mengiris”. Adapun yang dilakukan dalam upacara ini ialah: Pada saat padi sudah mulai menguning, sebagian dari padi tersebut dipanen, kemudian direbus (dihakang; bhs Tabulahan) dalam belanga, setelah matang diangkat lalu dijemur sampai kering. Setelah kering padi tersebut ditumbuk/diolah sampai menjadi beras. Beras inilah yang kemudian ditaruh di alat penampih (petapi; bhs Tabulahan), kemudian diiris dengan menggunakan “billa’”(kulit bambu yang tajam seperti silet). Sementara mengiris, orang yang mengiris tersebut mengucapkan mantra/doa yang berbunyi: “O,  dikoyo isinna saring,9 dikoyo tihkunna dena' anna angkanna ang siungkarakei pahe la tipaneo'do, dai  la naposule-sulei, la meada'" artinya: “diiris giginya tikus, diiris paruhnya burung pipit serta segala macam yang biasa merusak tanaman padi “akan rusak giginya/paruhnya” mereka tidak akan mengulangi merusak tanaman padi, tetapi mereka akan bertobat dan tau aturan”. Setelah itu maka beras tersebut dimasak setelah masak dimasukkan dalam wadah (sampa; bhs Tabulahan) dibubuhi lauk pauk berupa daging atau ikan, lalu dibagi ke tetangga-tetangga terdekat. Inilah yang disebut dengan “mangkoyo/mangkaringe’.”

(sementara mengisi makanan kedalam “sampa” untuk dibagikan ke tetangga-tetangga)
c.       Ma’pahhi’
Ma’pahhi’ dapat diartikan dengan “Perayaan/pesta adat”.  Dalam perayaan/pesta adat ini, ada beberapa macam kegiatan yang dilakukan antara lain: “Ma’tobaliang” dan “Menani”.
-          Ma’tobaliang:
“Ma’tobaliang”.  “Baliang” artinya: seorang perempuan remaja atau dewasa,  naik ke atas rumah milik “to ma’indo” dengan cara melompat-lompat seperti katak (“mengkahuhpa”; bhs Tabulahan). Setelah sampai ke atas rumah tersebut, maka tuan rumah (To ma’indo) tersebut menyambutnya, dan menuntun untuk berdiri, dan membawanya masuk ke dalam kamar. Keesokan harinya (pagi-pagi), perempuan tersebut dikenakan pakaian yang bagus dan dibawa ke ruang  tamu, lalu ditidurkan dan dibungkus dengan kain seperti orang mati dan diolesi “Katahi” dan “Kahatuang” (semacam tanaman yang biasa dipakai dalam upacara adat), diolesi dari kaki sampai kepala. Orang yang mengolesi tersebut adalah “Pompe” (“Pompe” adalah pemimpin upacara agama suku perempuan,  yakni orang yang ditugaskan secara khusus mengatur jalannya “baliang”).
Setelah diolesi dengan “Katahi” dan “Kahatuang”, lalu orang tersebut disuruh bangun kemudian  “Pompe” tersebut  berbicara tapi dilagukan, alunannya seperti mengaji. Inilah yang disebut dengan istilah “baliang”(mengucapkan kata-kata dengan irama lagu). Setelah itu disuruh berdiri dan menari bersama-sama dengan “pompe”, Dalam upacara ini hadir pula “To bisu” (“To bisu” adalah perempuan-perempuan yang juga sudah “ baliang”). To bisu juga berdiri dan menari bersama-sama. Setelah mereka menari, mereka duduk kembali dan melanjutkan “baliang”. Setelah itu mereka berdiri lagi dan menari. Apabila mereka sudah melakukan tarian penutup, maka orang yang sementara “baliang” tersebut masuk di kamar dan tinggal di dalam kamar. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh Orang yang sementara melakukan “baliang” ialah:
1.      Tidak boleh turun ke tanah (menginjak tanah)  selama 1 bulan atau ada sampai 3 bulan.
2.      Tidak boleh bertemu,berbicara dengan laki-laki, hanya bisa berbicara kepada perempuana tapi dengan berbisik.
3.      Tidak boleh makan makanan yang dianggap Najis (Makano; bhs Tabulahan) (daging yang dianggap najis ialah daging Anoa, Kerbau dan Tikus.
Sementara “baliang”, setiap orang menghafalkan alunan-alunan lagu berupa kalimat-kalimat tersendiri (baliang), yang diajarkan oleh seorang yang bernama “Matau”. (Matau ini adalah seorang yang ditugaskan untuk mengajarkan alunan-alunan lagu untuk orang-orang yang sementara baliang)
Apabila orang yang sementara baliang tersebut sudah mau menyelesaikan tugasnya, maka kerabatnya yang laki-laki pergi ke hutan berburuh. Jika ada 10 orang yang baliang, maka 10 orang laki-laki yang pergi berburuh. Hasil dari buruan ini sebagian diberikan kepada “to baliang” untuk dimakan, dan sebagian lagi diisi kedalam buluh yang disebut “Pinangi”(Pinangi artinya daging yang diisi dalam buluh) lalu digantung di atas para-para (sälängka’ ; bhs Tabulahan), lalu diambil oleh “to baliang” dengan cara melompat. Tiga malam sebelum orang-orang baliang turun dari rumah (selesai baliang), selama itu mereka semua mengucapkan alunan-alunan/kalimat-kalimat sambil dinyanyikan. Kalimat-kalimat itu dalam bahasa tua berbunyi:
-          Mebaimo’ la maondo (artinya : saya sudah ingin pergi)
-          Meteamo’ la mamaha (saya sudah tidak tahan dalam kerinduan)
-          Maondomo’ di to runde (saya sudah ingin turun ke tanah, menemui teman-temanku)
-          Mamahamo’ di to ullu’ (Saya sudah rindu terhadap keluargaku)
Dua malam sebelum turun dari rumah (selesai baliang), mereka tidur dan bermimpi untuk turun dari rumah dimana mereka sementara menjalani baliang. Pada malam berikutnya atau malam terakhir, maka dibuatlah dapur di ruang tamu. Malam itu adalah malam terakhir, pada saat itu dilakukan penahbisan atau dalam bahasa Tabulahan disebut “Mammatai”. Di dapur tersebut dibuatlah perapian, kemudian diambil perhiasan Emas dan ditanam dibawah perapian tersebut. Sementara itu semua orang yang sementara baliang tersebut mengelilingi perapian tersebut sambil menari dan masing-masing memegang wadah (tubung)yang ditutupi dengan kain, dan sambil itu “Pompe” membuka satu persatu wadah-wadah itu dengan berkata :”Ahangka hoi’ yato bulahan ang dipatama di api?” (artinya: Apakah Emas yang ditanam dalam api tersebut sudah ada dalam wadah?).
Keesokan harinya pada waktu subuh, maka Emas tersebut diambil dari dalam api dan diletakkan di salah satu wadah tersebut tanpa sepengetahuan orang-orang yang sementara baliang. Lalu Pompe mengatakan: “O O, landa’mi pole’ di hoi’ di tubunna ta Anu…” (artinya: Ok, (itu emas) sudah berada di wadahnya si….. (disebutkan namanya yang punya wadah)).
Orang yang disebutkan namanya inilah yang sudah diperbolehkan turun dari rumah, atau sudah menyelesaikan baliang, dan sudah bisa pulang kerumahnya. Apabila orang yang baliang ini adalah anak satu-satunya atau anak yang paling disayangi oleh orang tuanya, atau anak yang pernah mengalami sakit keras, maka tidak bisa menaiki rumahnya kalau tidak menginjakkan kakinya di atas punggung Babi yang sangat besar “Babi Pamaya”. Babi besar ini diikat kedua kakinya lalu dibaringkan di dekat tangga rumah, lalu orang yang baliang tersebut menginjak babi tersebut sama seperti menginjak anak tangga pertama. Setelah itu babi tersebut disembelih, dan darahnya diambil sedikit dipercikkan ke kening dan ke kaki orang yang telah baliang tersebut, lalu dagingnya dimasak dan dimakan bersama oleh semua yang hadir. Mereka bersyukur kepada Dewa karena telah menyertai orang yang baliang tersebut sehingga dapat menyelesaikan prosesi baliang sampai selesai. Acara ini disebut acara “mampasahpa”. Adapun orang yang baru pertama melakukan baliang disebut dengan istilah “dipeahengngi”, dan orang yang sudah dua kali mengikuti baliang disebut dengan istilah “kasusungngang”. Demikianlah upacara baliang.
-          Menani
“Menani” dapat diartikan dengan “Menyanyi”. Acara ini dilakukan oleh laki-laki. Jadi semua yang terlibat dalam upacara ini ialah semua laki-laki tidak ada perempuan. Pemimpinnya dinamakan “Sando” (pemimpin dalam upacara laki-laki). Upacara ini terdiri dari dua macam, yaitu:
-          Naniang dasang (nyanyian rumah)
-          Naniang uma (nyanyian sawah)

-          Naniang dasang (nyanyian rumah)
Yang pertama-tama dilakukan dalam upacara ini ialah, membuat gendang dari kulit binatang, kemudian gendang tersebut digantungkan di ujung rumah, dan dibunyikan pagi dan sore. Setelah semua orang (laki-laki) terkumpul di rumah tersebut, maka diadakanlah acara pemilihan pemimpin/kepala adat. Kepala adat inilah yang akan menjadi pemimpin di daerah tersebut. Cara yang dilakukan dalam pemilihan  tersebut ialah, semua laki-laki yang hadir dalam upacara tersebut tidur dan bermimpi. Lalu masing-masing menceritakan mimpinya kepada “sando” juga didengarkan oleh orang-orang yang hadir di situ. Siapa diantara mereka yang mempunyai mimpi yang paling bagus, maka itulah yang terpilih menjadi kepala Adat. Kalau ada diantara mereka yang bermimpi panen mangga hutan, maka orang tersebut sama sekali tidak boleh dipilih menjadi pemimpin, karena nantinya rakyatnya akan habis meninggal dunia (hopu). Akan tetapi jika setelah pemilihan Kepala Adat ternyata ada orang yang meninggal dunia, maka Kepala Adat tersebut diwajibkan menyembelih Babi untuk mencuci gendangnya. Tetapi jika banyak orang yang meninggal dunia, maka harus diadakan pemilihan ulang (pergantian kepemimpinan).
Selama Gendang tersebut masih tergantung, maka semua laki-laki yang hadir di situ dipimpin oleh “sändo” secara bergantian berbicara sambil menyanyi menghitung rakyatnya serta memintakan berkat dan rahmat kepada Alataala. 

(Ini adalah Gendang terbuat dari Kulit kerbau)
Dalam setiap kampung, ada dua orang “sando” (pemimpin dalam upacara agama suku). Sebagai prosesi terakhir dari upacara ini, maka semua orang pergi berkunjung (naik) ke rumah “sando”. Mereka naik keatas rumah “sando” yang satu dan selanjugnya ke rumah “sando” yang kedua,  dipimpin oleh seorang  yang disebut “Pengngalingang”. Setelah mereka masuk ke dalam rumah, maka tuan rumah (sando), menyapa mereka dengan berkata: “Umba umpengkalaoia?”, (artinya : Kalian berasal dari mana?) dijawab oleh “Pengalingang” dengan berkata: “E, mengkalaoang hao di hautena Sandäpäng. Änä'-änä'ke' anna mengkalaoang dinne, ya' tobaha'-baha' dangkang piha dinoa” (artiya: Kami berasal dari tanah sebrang, sejak masih kecil kami sudah pergi (merantau) meninggalkan kampong ini, dan sekarang sebagian dari kami sudah tua.” Setelah itu maka tuan romah (sando) menjamuh mereka dengan hidangan yang telah disiapkan. Selanjutnya mereka pergi lagi ke rumah “sando” yang kedua dengan cara yang sama. Beginilah jalannya upacara “Naniang Dasang”.
-          Naniang uma (nyanyian sawah)
Upacara “Naniang Uma” pada dasarnya sama dengan “naniang Dasang”, tetapi Gendang tersebut digantungkan di tengah-tengah sawah, dan dibunyikan pagi dan sore. Pada waktu malam semua orang di satu kampung berkumpul dalam satu rumah, dan mereka  mengucapkan kata-kata dengan dinyanyikan secara berbalas-balasan laki-laki dan perempuan. Kata-kata yang diucapkan tersebut adalah mengenai padi, bagaimana padi itu mulai dari penanaman sampai panen (apa suka duka dalam menanam sampai panen). Mereka juga menyebutkan apa yang membuat tanah menjadi subur, sehingga padi itu bisa tumbuh dengan baik. Semuanya itu adalah berkat dari Allahtaala (Dewa). Demikianlah jalannya upacara “Naniang Uma”.
Jadi bisa dikatakan bahwa “Naniang Dasang” dan “Naniang Uma” pada dasarnya adalah sama, yang membedakan ialah bahwa dalam upacara “Naniang Dasang” berfokus pada kehidupan manusia, sedangkan “Naniang Uma” berfokus pada padi (penanaman sampai panen).
Setelah selesai melakukan kedua upacara ini, maka diadakanlah perayaan terakhir yang disebut dengan “Mammatai”. Dalam perayaan ini hanya “Sando” yang “Menani”(menyanyi) bersama istrinya. Sando ini memakai pakaian khusus, yakni memasang tanduk di kepalannya dan memegang giring-giring (Bangkulä’).  Sambil menggoyang-goyangkan kepalanya, sementara itu membunyikan giring-giringnya mengiringi nyanyiannya. Ada banyak kegiatan yang dilakukan dalam acara terakhir ini yakni: “Mampatama diapi” (memasukkan kedalam api), mosuhääng (semacam permainan rakyat), mangnganda’ (tarian laki-laki) dan lain sebagainya.
d.      Pangngae/Kumoha
Kata “Pangngae” bisa diartikan sebagai “Pembunuh”. Ini  adalah salah satu kebiasaan orang tua zaman dahulu. Adapun yang dilakukan ialah: Seorang laki-laki pergi kehutan dengan hanya membawah sebila pedang dan mencari seekor babi besar. Apabila sudah menemukan seekor babi, maka babi tersebut dipenggal kepalanya dan kepala dari babi tersebut di bawa ke kampung. Setelah laki-laki ini sampai di ujung kampung, dia berteriak keras. Semua orang yang mendengar  teriakannya ini membunyikan gendang/tambur. Inilah yang disebut dengan “Dita’ba Pabuno” atau “Dita’ba Pangngae” (artinya: Pembunuh disambut dengan gemuruh gendang). Laki-laki “Pangngae” tersebut tidak boleh langsung masuk kampung, tapi dia harus bermalam di pondok pada malam itu, inilah yang disebut dengan “Umpatindoi bä’na” artinya “meniduri kepala(babi)nya”. Keesokan harinya pergilah istri dan anak-anaknya menemui/menjemput dia dengan membawa perlengkapan berupa perhiasa (kalung, gelang, cincin) dan pakaian yang bagus. Lalu perhiasan dan pakaian ini dikenakan kepada laki-laki tersebut, setelah itu salah seorang dari anggota keluarganya menari (Mentare, tarian adat). Sambil menari diiringi dengan menyanyi. Dalam isi nyanyian tersebut menceritakan bagaimana perjalanan seorang laki-laki pemberani yang pergi untuk membunuh (seekor Babi). Perjalanan ini mempunyai banyak tantangan dan rintangan yang begitu sulit, tapi karena pemeliharaan ban berkat dari Allataala, sehingga boleh pulang dengan selamat dan membawa hasil. Setelah itu maka mereka masuk kampung dengan beriring-iringan dengan membawa kepala babi tersebut yang digantungkan pada seruas bamboo yang dilobangi ujungnya sehingga berbunyi apabila ditiup. Sesampai dirumah, maka laki-laki tersebut dijamuh secara berwibawa, makanannya disajikan pada piring yang mahal harganya yang disebut dengan “Pindang”. Acara makan ini dinamakan “mampaya’I”.
Setelah 3 malam, maka bambu (bambu dimana kepala babi itu digantungkan) tersebut di simpan. Bambu ini dinamakan “Tamboläng”. Tamboläng ini diletakkan diatas bubungan rumah dengan dihiasi janur kuning, inilah yang disebut dengan “mampandang”, sementara itu semua orang menari dan menyanyi (baliang). Isi dari nyanyian itu ialah bercerita tentang bagaimana seseorang bisa memenggal kepala seekor babi dengan hanya bersenjatakan sebilah pedang dalam waktu yang relative singkat, dengan kata lain hanya dengan sebilah pedang bisa membunuh musuhnya, itu semua karena kehendak dari Dewa (Allataala). Demikianlah jalannya upacara “Pangngae”.
e.       Mampaleho’
Kata “Mampaleho” bisa diartikan dengan “menyambut dengan member hadiah”. Caranya ialah seorang anak laki-laki (biasanya anak pertama atau anak yang paling disayang, atau anak yang pernah terserang sakit keras dan hampir-hampir meninggal dunia). Anak ini diantar oleh orang tuanya berkeliling dari kampung ke kampung, mengunjungi sanak saudaranya. Setiap masuk ke satu rumah, orang tua dari anak tersebut mengatakan: “sule inde änä’ta/ampota dipeleho’I” artinya “Ini anak kita/cucu kita, sambut dia”. Lalu tuan rumah tersebut menjawab dengan berkata: “O io kasih” (artinya: O ia, syukurlah), lalu tuan rumah tersebut mengambil barang-barang pusaka yang disimpan dan diberikan kepada anak tersebut dengan berkata: “Alang inde leho’mu änä’ku/ampoku, aka’ dianto inde aka-akanna tobaha’ta mengkalao dolu” artinya (Ambil ini hadiah pusakamu anakku/cucuku, inilah barang pusaka peninggalan nene’ moyang kita). Beginilah caranya mengunjungi setiap kerabat keluarganya, sehingga ada begitu banyak barang yang dibawah pulang oleh anak ini bersama orang tuanya. Barang-barang pemberian itu adalah barang-barang pusaka yang dianggap berharga pada masa itu. Setelah anak ini pulang kembali ke rumahnya, maka seekor babi yang paling besar (babi samaya) diikat kakinya dan diletakkan secara terlentang di dekat tangga rumah, dan sebelum anak ini naik ke atas rumah dia harus menginjakkan kakinya diatas babi tersebut, inilah yang disebut “dipaira’ di bahi” artinya (disuruh menginnjakkan kakinya di atas babi). Lalu babi tersebut disembelih dan darahnya dipercikkan ke kaki dan kening anak tersebut, sementara daging babi itu dimasak dan dimakan bersama seisi kampung. Demikianlah upacara mampaleho’.
f.        Meusi' / sumomba
Meusi’ atau Sumomba adalah upacara yang dilakukan apabila seorang laki-laki ingin membentuk sebuah rumah tangga (menikah). Apabila seorang laki-laki mau menikahi seorang perempuan tapi laki-laki tersebut tidak memiliki harta yang banyak (miskin), maka laki-laki tersebut hanya menyediakan beras 1 bakul penuh  dengan daging seadanya saja atau jika tidak ada daging maka bisa diganti dengan beberapa butir telur. Inilah yang disebut dengan “Meusi”. Sedangkan “Sumomba” ialah upacara yang dilakukan apabila seorang laki-laki ingin menikahi seorang perempuan, dan laki-laki tersebut adalah memiliki banyak harta (kaya). Caranya ialah keluarga dari laki-laki tersebut membawa seekor kerbau yang sudah dihiasi dengan hiasan-hiasan yang indah dan dikepalanya dililitkan kain berwarna merah, selain kerbau, juga diwajibkan membawa sebila tombak dan barang pusaka “Tubung”. Semua ini diantar ke rumah pengantin Perempuan. Inilah yang disebut dengan “Sumomba”.  Sebenarnya ada begitu banyak acara yang dilakukan dalam upacara ini, tapi dalam tulisan ini tidak dijelaskan secara panjang lebar. 

(Beginilah pesta nikah di Tabulahan setelah menganut Agama Kristen”
g.      Mampahahi', anna mansohengngi pinängngäng
-          Mampahahi’
Kata “Mampahahi” bisa diartikan sebagai “mempersembahkan saji-sajian”. Hal ini sering dilakukan oleh orang tua pada zaman dahulu apabila padi sudah menguning, pada saat panen jagung dan juga apabila banyak orang yang terserang penyakit.  Apabila padi sudah menguning dan padi tersebut kelihatan baik adanya, maka Orang tua menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan dalam upacara “mampahahi’”, yakni memasak nasi dalam bambu (bhs Tabulahan:manghora’), dan juga merebus beberapa butir telur, lalu dibawa ke sawah. Setelah sampai di sawah, nasi dan telur tersebut disajikan diatas wadah yang telah disediakan berupa anyaman bambu yang dilapisi dengan daun. Sementara itu juga dibakar kayu yang harum baunya (Leha), dan sementara kayu yang dibakar itu mengeluarkan asap, orang tua itu menaikkan semacam doa yakni: “Pahe disändäpäng, pahe disampa’-sampa’, pahe ditero-tero anna pahe tadipahahi’i, maio sitammu-tammu, maio sitahpa-tahpa, dinne andeang mammi’mu, dinne pokasingammu, kuru’ mai pahe diingkänna bohto” (artinya: Padi yang tidak terurus, padi yang diinjak-injak (orang) dan padi yang tidak diupacarai, mari disini bertemu dan berkumpul di sini, disini banyak makanan enak-enak dan juga permainan yang menyenangkan, datanglah semua padi disemua daerah (sambil disebutkan nama-nama daerah tersebut satu persatu)”.
Selain itu saji-sajian tersebut juga ditempatkan di sudut-sudut persawahan dengan tujuan agar korban saji-sajian tersebut dimakan oleh yang menguasai air, yang menguasai segala macam hama perusak tanaman. Inilah yang disebut dengan “malleha’i”.
Jika dalam satu kampung banyak orang yang terserang penyakit, maka orang tua dalam kampung tersebut pergi ke ujung kampung dengan membawa seekor ayam, lalu ayam tersebut disembelih dan hati ayam tersebut dipersembahkan sebagai korban sajian untuk meminta kesembuhan dari orang-orang yang terserang penyakit (bahasa Tabulahan: Mampalea’).
-          mansohengngi pinängngäng
Hal ini biasa dilakukan apabila kita ingin meminta musim kemarau, juga apabila ada binatang buas atau binatang langka yang memasuki kampung. Caranya ialah: Pinängngäng tersebut diiris-iris lalu diletakkan di sebuah penutup wadah (tutu’ bingka’), lalu diletakkan ke atas atap rumah di bagian depan, sementara itu orang tua tersebut menyebutkan apa yang diinginkan. Apabila ada hal-hal lain yang diinginkan maka Pinängngäng tersebut diletakkan keatas balok penyanggah utama rumah yang disebut “haa’”.
h.      Ma'tomate, Mokaleang baha', Mobätäng punti
-          Ma’tomate
 Apabila ada seseorang yang meninggal dunia, apakah itu orang tua atau anak-anak, ditandai dengan bunyi gendang (tetapi sekarang karena pada umumnya orang Tabulahan sudah menganut Agama Kristen maka ditandai dengan bunyi lonceng gereja.) Apabila yang meninggal adalah orang yang sudah dewasa/tua, maka lonceng tersebut dibunyikan agak lama, tetapi jika yang meninggal anak kecil maka bunyi lonceng tersebut tidak lama. Jadi dari bunyi lonceng itu orang-orang akan mengetahui apakah yang meninggal orang tua atau anak-anak.
Ketika mereka mendengar bunyi lonceng yang mendakan ada orang yang meninggal, maka semua aktivitas di kampung itu dihentikan, dan semua orang dikampung itu berbondong-bondong datang ke rumah duka dengan masing-masing membawa apa saja yang akan dibutuhkan dalam rumah duka tersebut antara lain: Padi, Jagung, kain, kain sarung, rokok, uang, sayur-sayuran, ayam bahkan babi dan lain sebagainya. Sedangkan keluarga yang berduka menyediakan babi atau kerbau yang akan dijadikan korban dalam upacara kematian. Semua perempuan yang di rumah duka berbagi kerja, ada yang menumbuk padi, ada yang memasak dan lain sebagainya. Sementara semua laki-laki juga berbagi kerja ada yang pergi mengambil kayu bakar dan yang lain mempersiapkan peti mati dan lain sebagainya. Sedangkan orang-orang tua duduk bersama keluarga yang berduka untuk memberikan kata-kata penghiburan.
(Para wanita sementara menumbuk padi)
Apabila orang yang meninggal tersebut dari golongan bangsawan atau dari golongan orang kaya, maka mayatnya bisa  disimpan di atas rumah sampai tiga malam atau lebih tergantung keinginan keluarga, akan tetapi jika orang yang meninggal tersebut adalah dari golongan rakyat biasa atau dari golongan orang miskin maka biasanya mayatnya langsung dikuburkan hari itu juga. Karena selama mayat itu ada di atas rumah maka setiap harinya harus ada 1 atau 2 ekor babi atau kerbau yang disembelih. Demikian juga apabila orang yang meninggal tersebut mengidap penyakit berbahaya/menular, maka mayatnya harus cepat-cepat dikuburkan, dan ketika mayatnya akan diatar ke liang kubur maka tua-tua kampung menangkap seekor anak ayam lalu anak ayam tersebut dipukulkan kepalanya ke petih mayat tersebut sambil mengucapkan: “Baha toboidio Korommu” (artinya: Bawa segala penyakitmu).
(Beginilah suasana saat pemakaman/penguburan)
Apabila orang yang meninggal tersebut sudah dikebumikan, maka keluarga dari almarhum/almarhumah tersebut masih butuh penghiburan. Oleh karena itu setiap malam anak-anak mudah biasanya berkumpul di rumah duka tersebut sambil bermain berbagai macam permainan rakyat sampai keluarga tersebut bisa melupakan kesedihannya.  Masih ada peringatan-peringatan yang dilakukan setelah penguburan, yakni peringatan 3 malam dan 40 hari. Apabila sudah sampai 3 malam, maka keluarga yang berduka tersebut mengadakan peringatan dengan mengundang semua penduduk kampung untuk berkumpul bersama dan makan bersama(saat ini sudah dibuat dalam bentuk ibadah Kristiani). Hal ini dilakukan dengan tujuan agar antara orang mati dan orang yang masih hidup sudah dipisahkan, jadi tidak bisa lagi hadir baik dalam mimpi maupun dalam bentuk apa saja karen sudah pergi untuk selamanya. Demikian juga apabila sudah sampai 40 hari maka diadakan lagi acara peringatan dengan tujuan bahwa keluarga tersebut sudah benar-benar merelakan kepergian dari almarhum/almarhumah. Apabila akan dilakukan perbaikan/perubahan kuburan, maka harus ada korban yang disembelih seperti babi atau kerbau. Demikianlah upacara kematian di Tabulahan.
-          Mokaleleangbaha’
Hal ini dilakukan apabila keluarga mendapatkan berita bahwa ada sanak saudara yang meninggal di negeri orang atau meninggal di perantauan. Apabila keluarga di kampung mendengar berita bahwa ada sanak saudara yang meninggal di perantauan, maka keluarga tersebut mengadakan upacara kematian dengan menyembelih babi atau kerbau lalu mengundang semua penduduk kampung, dan orang-orang yang datang tersebut membawa berbagai macam keperluan sama seperti pada acara kematian. Inilah yang dimaksud dengan “mokaleleangbaha’”.
-          Mobätäng Punti
Pada dasarnya “Mobätäng Punti” hampir sama dengan “Mokaleleangbaha’”, tapi bedanya ialah dalam upacara tersebut mayat diganti dengan batang pisang. Jadi batang pisang tersebut dibentuk seperti mayat lalu di upacarakan. Ini biasa dilakukan apabila ada orang yang mati entah dimana atau hilang terbawa arus sungai dan tidak bisa lagi ditemukan mayatnya. Inilah yang disebut dengan “Mobätäng Punti”. Jalannya upacara ini persis sama dengan upacara kematian.
i.        Mebaba'  dan Mensomba’
-          Mebaba’
“Mebaba’” bisa diartikan dengan “Menyembeli ternak (Kerbau atau babi) untuk memperbaiki makam/kuburan”. Hal ini dilakukan agar arwah dari orang yang telah meninggal menempati tempat yang lebih layak/lebih bagus.  Apabila ingin memperbaiki makam, maka pertama-tama harus dipikirkan ialah korban sembelihan berupa Kerbau atau babi, setelah itu, keluarga pergi ke makam dan membentangkan tikar diatas makam yang akan “dibaba’”. Lalu semua sanak saudara dari orang yang telah meninggal tersebut berkumpul di makam itu dan makan bersama. Apabila yang dijadikan korban adalah Kerbau, maka kepala/tanduk kerbau tersebut digantungkan di atas makam tersebut, apabila Babi yang dikorbankan, maka kepala babi yang digantungkan, sedangkan bulu-bulu ayam juga dijadikan hiasan disekitar atap kuburan. Demikianlah yang disebut dengan “Mebaba’”.
-          Mensomba’
“Mensomba’” artinya “orang yang menemui arwah”. Orang tersebut meletakkan bahan-bahan makanan seperti: Kelapa, tebu, nenas dan lain-lain yang bisa dimakan. Hal ini dilakukan sesudah upacara mebaba’, dengan keyakinan bahwa ada banyak makam/kuburan yang belum diperbaiki (belum dibaba’), sehingga arwah-arwah dari makam yang belum dibaba’ ini bisa-bisa cemburu dan sakit hati sehingga mereka akan berubah wujud menjadi binatang-binatang perusak tanaman, tan memakan habis segala tanaman dan buah-buahan.
j.        Medasang, Meloko
-          Medasang
Kata “Medasang” dapat diartikan dengan “Membangun Rumah.”  Apabila hendak membangun rumah, maka yang pertama sekali dilakukan ialah pergi ke lokasi  untuk meninjau dimana akan didirikan rumah tersebut. Selanjutnya pada waktu tengah malam orang yang akan membangun rumah tersebut pergi ke lokasi pembangunan rumah dengan membawa seruas bambu yang berisi air, tapi air tersebut hanya diisi ¾ saja (tidak penuh). Lalu bambu tersebut ditancapkan ditengah-tengah lokasi dimana akan didirikan rumah, dan  ditutup rapat dengan menggunakan kain.  Pada keesokan harinya pagi-pagi,  bambu yang ditancapkan tersebut dicek, apabila air yang ada dalam bambu itu bertambah bahkan sampai melimpah-limpah keluar, maka lokasai tersebut sangat bagus dan cocok untuk ditempati membangun rumah, dan orang yang akan membangun rumah tersebut akan keberkatan tinggal di situ. Tetapi apabila air yang ada dalam bambu tersebut justru berkurang bahkan mengering, maka harus dicari lagi tempat yang yang cocok untuk membangun rumah.

(Beginilah cara membangun rumah di Tabulahan/Saluleang Langsa’)
Selain cara di atas, masih ada cara lain yang dilkukan, yaitu pada tengah malam orang yang akan membangun rumah tersebut pergi ke lokasi dimana akan ditempati membangun rumah untuk mengecek, dan apabila disana ditemui binatang-binatang peliharaan seperti Babi atau anjing, maka diyakini bahwa lokasi tersebut bagus untuk ditempati membangun rumah. Akan tetapi apabila tidak seekorpun hewan peliharaan yang ditemui di sana, justru terasa menyeramkan, maka lokasi tersebut tidak baik untuk ditempati membangun rumah karena kemungkinan banyak hantu di situ.
Apabila sudah ditemukan lokasi yang tepat untuk mendirikan rumah, dan sudah dimulai membangun rumah, maka ditengah-tengah lokasi tersebut ditanam beberapa jenis tanaman yang dianggap sebagai obat seperti:  Kunyit, Jahe, lombok, dan jenis tanaman (bhs Tabulahan: Kahiango dan sihope). Selanjutnya dilakukan proses pembangunan rumah (dalam proses ini ada berbagai upacara yang dilakukan tapi tidak dijelaskan di sini). Akan tetapi tidak bisa memulai mendirikan rumah apa bila musim hujan, harus ditunggu sampai musim kemarau. Demikian juga apabila rumah tersebut sudah sementara didirikan dan ada orang yang terjatuh saat mendirikan rumah tersebut, maka pembangunan rumah dibatalkan, bahkan apabila rumah tersebut sudah berdiri harus dibongkar kembali.  Setelah itu ditentukan kembali waktu yang cocok untuk membangun kembali rumah tersebut, tetapi harus menyembelih seekor babi dan darah dari babi itu dipercikkan ke balok penyangga utama dari rumah itu. Untuk pemasangan atap rumah tidak bisa dilakukan pada saat hujan, karena apabila pemasangan atap dilakukan di waktu hujan, maka rumah tersebut akan kebakaran. 

(Model Rumah “Dasang Busung”di Saluleang Tabulahan)
Biasanya orang tua membangun rumah mereka berpatokan pada bulan, jadi ada yang dinamakan “Timumung” inilah biasanya waktu yang tepat untuk pembangunan rumah (tanggal ke 14 perhitungan bulan). Pada saat ini diyakini bahwa rumah yang dibangun tersebut akan mendatangkan bahagia dan sejahtrah bagi yang menempati rumah itu. Apabila rumah tersebut sudah jadi maka diadakanlah upacara naik rumah baru dengan menyembeli korban untuk dimakan bersama-sama sambil menari, dan menyanyi, pokoknya mengadakan acara pesta. Beginilah jalannya upacara pembangunan rumah.
-          Meloko
 “Loko” adalah “lumbung padi/jagung”. Proses pembangunannya sama dengan proses pembangunan rumah. Tiang yang dipakai adalah dari batang Enau hutan yang lurus, tidak boleh bengkok. Pembangunan Lumbung ini dilakukan dikebun atau di sawah.

(Gambar lumbung padi “loko”)
k.      Mokalane/Mendohe’
Mokalane/Mendohe’ adalah bisa diartikan sebagai “berburuh ke hutan”. Ada beberapa macam yang dilakukan antara lain: Mopauhu (memasang perangkap untuk menangkap babi hutan, rusa, tikus), mangngotong (memasang perangkap di dalam sungai untuk menangkap belut sungai, kepiting dan lain sebagainya), sedangkan Moasu (berburuh menggunakan anjing). Demikianlah yang dilakukan dalam Mokalane/mendohe’.

(Bersiap-siap pergi berburuh ke hutan)
l.        Sayo, Pakeang anna Pangkahka’
-          Sayo
Kata “sayo” artinya “Tarian”. Tari-tarian di daerah Tabulahan sejak dahulu ada beberapa macam yakni:
-          Sangkusung,
-          Mentare,
-          Mamirung,
-          Moleka,
-          Mobulu',
-          Sumayo biasa.
Ini adalah macam-macam tari-tarian orang tua di Tabulahan, yang biasanya dilakukan oleh kaum perempuan, sedangkan tarian laki-laki disebut dengan “Mangnganda’” (semacam tarian cakalele). Jika kita ingin mengetahui berbagai macam arti/makna dibalik tari-tarian ini maka tentunya kita harus melakukan penelitian khusus mengenai tari-tarian ini, karena disini tidak dijelaskan secara rinci.

(salah satu bentuk tarian di Tabulahan)

(Inilah tarian Laki-laki “Manganda’)
-          Pakeang

Kata “Pakeang” artinya “Pakaian”. Untuk laki-laki memakai baju hitam yang pinggirannya ditambahkan kain warna kuning, sedangkan celananya hanya sebatas lutut dan ketat dibagian paha, mengikatkan serban putih di kepalanya dan berselendang kain putih.
Untuk pakaian kaum wanita, baju kemeja lengan panjang, pinggirannya dihisi dengan manik-manik, sehingga kelihatan berkilauan, dan dibagian pinggangnya dibiarkan terbelah sekitar 10 cm. Sementara Rok yang digunakan adalah sarung yang dipakai berlapis-lapis dengan berbagai macam warna sehingga kelihatan indah seperti kain yang bergaris-garis, ini yang disebut dengan “Mopatapi’”. Akan tetapi ada juga yang hanya memakai hanya satu sarung sebagai rok, ini disebut dengan “Kundai samboa”. Dan juga memakai topi yang penuh dengan hiasan-hiasan sehingga kelihatan seperti mahkota, dan ditelinganya menggunakan anting-anting, dan kalung serta gelang di tangannya, dan dikakinya dipasang semacam giring-giring sehingga apa bila berjalan giring-giring itu berbunyi.
-          Pangkahka’
“Pangkahka’” artinya “Peralatan”. Kebanyakan peralatan yang digunakan oleh orang tua adalah yang gampang ditemukan di daerah tersebut, peralatan-peralatan tersebut dirakit sedemikian rupa sehingga kelihatan bagus.
PENUTUP
Demikianlah uraian singkat mengenai kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh Orang tua pada saman dahulu kala di Tabulahan. Tentunya informasi ini tidak begitu sempurna dan tidak mendalam, dan sangat banyak kekurangan, tapi mudah-mudahan bisa memberikan kepada kita pemahaman tentang kebiasaan-kebiasaan orang tua kita pada zaman dahulu, agar supaya kita sebagai orang-orang yang merasa diri sebagai orang Tabulahan dapat memahami adat dan kebiasaan kita dimanapun kita berada dan berkarya. Tabe’...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar